Selasa, 16 Desember 2014

Setangkai Flamboyan di Ujung Jalan

Dari perasaan yang teramat memilukan
Tertutur sebuah ungkapan kekecewaan
Terbalut perasaan yang tak karuan
Memecah batasan kesunyian
Pada senja yang tak jua usai

Setangkai Flamboyan di ujung jalan sana
Meminta, memohon pada setiap orang yang melangkahinya
Untuk sekedar memercikan setetes atau dua tetes kehidupan
Tanpa adanya keinginan yang berlebihan
Untuk sekedar memberinya harapan
Agar mampu hidup di tengah kesengsaraan

Setangkai Flamboyan yang kini menjadi layu
Menengadahkan kelopaknya ke atas
Pada senja yang tak jua usai
Ia titipkan kebahagiaan yang semu

Pada setangkai Flamboyan yang kini telah mati
Kecantikannya terlambat disadari

16 Desember 2014
Devina Gary Oktiana

Senin, 15 Desember 2014

Peri Kecil yang Sirna (Berbahagialah dalam Kegelapan) #Part 11 - epilog

"Sirna selamat ulang tahun ke-14 sayang..."
"Ah bunda terimakasih banyak bun... ahiya sebentar aku ingin mengecek kotak pos bun, siapa tahu kado misterius itu datang lagi, sebentar ya bun"
Lalalalala yah kok gak ada biasanya kalau aku ulang tahun selalu ada kado di sini... apa mungkin terlambat ya? aku tunggu saja deh kalau begitu..

siang...

sore...

malam...

"Sirna...."
"Kadonya gak ada bun... Sirna mau tidur aja deh bun... dah bunda..."

Peri Kecil yang Sirna (Berbahagialah dalam Kegelapan) #Part 10 - Kini Tiba Waktunya

tik.. tok.. tik.. tok..
Sayup-sayup ku dengar suara jam dinding yang ada di ruangan ini, semuanya tampak putih bersih, tak ada satu orang pun yang ada di dalam ruangan ini selain aku. ini rumah sakit, bukan? ini ruangan tempat aku dirawat bukan? tapi rasanya ruanga ini menjadi begitu asing bagiku. ini aneh. dan kemudian pikiran itu muncul menghampiriku. oh Tuhan, apakah aku sudah....
"Sirna...." 
refleks aku menengok ke arah sumber suara itu, di sana... seorang wanita cantik berbusana putih dengan rambutnya yang diikat setengah. sangat cantik. lama kelamaan dia mendekat, menghampiriku. tapi... siapa dia? apakah dia...?
"Hahaha... kau tak perlu memandangku seperti itu." dia tersenyum dan entah bagaimana sekarang dia sudah berada tepat disampingku. "bangun dan duduklah... ada yang ingin aku jelaskan padamu." 
aku pun mengikuti perintahnya, tanpa ragu aku bangun dan duduk disebelahnya. tak lama, aku merasakan sentuhan yang sangat lembut di kepalaku. ini lebih dari belaian bunda. perasaan tenang ini, sulit, sulit aku ungkapkan.
"Kau tumbuh dengan sangat cepat, sekarang kau sudah sebesar ini. padahal terakhir aku melihatmu, kau masih sering menangis meminta hadiah ulang tahunmu. sekarang kau sangat cantik."
"Sssiapa kkkau?"
"Aku meminta maaf atas semuanya Sirna, kau harus mengalami kehidupan yang seperti ini karenaku. Aku minta maaf, anakku..."
"Anakku? Aku anakmu? Kau ibuku? Tapi bagaimana? Bagaimana bisa?" aku mulai menetestan butir-butir air mataku menahan isak tangis dan menyimpannya dalam hati.
"Aku.... minta maaf."
"Kenapa? Kenapa kau tega membuangku? kenapa kau tega meninggalkanku dan baru datang padaku sekarang?! kenapa?! kemana saja kau enam belas tahun ini? aku bahkan tak pernah melihat wajahmu, aku bahkan tak pernah mendengar suaramu, aku bahkan berpikir bahwa kau tidak pernah ada di dunia ini. lalu mengapa sekarang kau datang ke sini? untuk apa?!" dadaku sesak seperti tercekik, aku tak tahu akan berbuat apa aku tak tahu akan berkata apa lagi, aku hanya bisa menangis..
"Saat itu, kau baru berumur tiga minggu, ketika aku mengetahui bahwa ayahmu telah selingkuh dengan wanita lain, ketika itu pula aku mengetahui bahwa aku mengidap penyakit yang bisa menular. ibumu ini tak tahu lagi harus pergi ke mana, keluargamu tak mau menerimaku lagi setelah aku bersikukuh untuk menikah dengan ayahmu. memang semua ini salahku, jika saja aku tidak terbuai oleh laki-laki itu. tanpa berpikir panjang aku mencari sebuah panti asuhan dan menitipkanmu di sana. jika kau berpikir aku tak pernah datang, kau salah anakku... aku selalu datang setiap hari dalam hidupku, bahkan setiap kau berulang tahun aku selalu memberimu kado sayang, hingga akhirnya pada ulangtahunmu yang ke-13 itulah kado terakhir dariku. sejak saat itu, aku sudah tidak lagi datang kepadamu, aku sudah tak dapat lagi melihatmu dari sisi panti asuhan itu. penyakitku sudah membawaku pergi jauh meninggalkanmu, aku gugur. tapi, aku selalu di sini, menjagamu, melindungimu. kini... aku datang... aku datang untuk menjemputmu anakku, aku datang untuk menebus jutaan pelukan yang belum sempat aku berikan padamu, aku datang untuk menebus milyaran cinta dan kasih sayang yang belum sempat kau rasakan.. karna ini adalah waktumu pulang, anakku.."
aku masih terdiam, tak tahu harus berbuat apa, yang jelas air mataku mengalir, aku pun tak kuasa menahan perasaan itu, saat tangannya terbuka lebar untuk memelukku, aku datang menghampirinya dengan pelukan kerinduan. ibuku..."

*tuuuuuuuuuut..................*
Innalillahi wa Inna ilaihi Rooji'un... Sirna...

Peri Kecil yang Sirna (Berbahagialah dalam Kegelapan) #part1 prolog

Jika harus aku memilih, aku ingin lahir sebagai manusia normal seutuhnya. Mempunyai banyak teman, mempunyai mainan yang banyak, dan tentunya mempunyai orang tua. Tapi orang tua mana yang menginginkan aku? Sedang orang tua kandungku saja tega meninggalkanku di pelataran tempat ini. Tempat yang mungkin menjadi satu-satunya tempat yang menerima gadis cacat seperti aku. Tempat yang menjadi alasan untukku tetap merangkai segenap asa serta impian akan masa depan yang indah. 

Aku dilahirkan hanya dengan satu ginjal dengan keadaan hati yang belum sempurna. Sehingga hidupku harus 'selalu' menelan obat. Hingga aku jadikan obatku sebagai satu-satunya sahabat yang dapat meringankan penderitaanku. 

Terkadang aku membenci orang tuaku. Mengapa aku dilahirkan dengan kondisi lemah dan menyedihkan seperti ini? Tapi apa yang dapat aku lakukan? Akupun tak tahu siapa kedua orang tuaku. Kapan aku lahir dan apa nama yang mereka berikan untukku? 

Ibu asuhku di panti ini selalu bicara padaku, "Kamu adalah anugerah Tuhan, Sirna. Bahkan umurmu yang sampai saat ini adalah berkah Tuhan. Tuhan ingin melihatmu bangkit sehingga Ia tidak membenarkan berkataan dokter yang saat itu berkata bahwa bayi ini tidak akan bertahan dalam waktu satu tahun apalagi lebih. Tapi Tuhan menjawab semuanya. Kamu masih ada di sini. Kamu bertahan bukan hanya satu tahun, tapi tiga belas tahun." Begitulah Bunda Lina yang selalu memberiku rintikan semangat ke dalam hatiku. Mungkin tanpa beliau aku tak akan pernah menjadi Sirna yang kuat, Sirna yang tegar. Aku tahu bahwa suatu waktu aku akan mati. Tapi tak inin aku menggantungkan hidupku pada sebuah kematian yang bukan hanya aku saja yang akan menjelangnya. 

Terkadang hatiku bergemuruh menolak kenyataan ini. Tapi disisi lain hatiku mereda karna seperti apapun keadaanku aku dapat menghirup wangi dunia. Aku seperti menghela nafas di dalam ruangan beracun. Aku tak ingin mati karena tidak bernafas, tapi ketika aku bernafas aku mati oleh racun-racun itu. 

Andai di satu sisi aku dapat menjadi seseorang yang tidak hanya berbaring atau duduk di kursi roda. Mungkin aku akan menemukan dunia, mencintai dan menyayangi dunia. Karna yang aku temukan saat ini hanyalah sirna. Sirna yang menyirnakan dunianya sendiri. 

Peri Kecil yang Sirna (Berbahagialah dalam Kegelapan) #part2 Bertanya Pada Malam

Sang malam, izinkan aku mengungkap perasaan ini padamu. Biar kau tak perlu menjawabnya. Dengar lalu acuhkan saja riak hatiku. Aku ingin pergi, terbang jauh melayang di antaramu. Aku ingin menikmati rasa bebas akan dunia yang aku miliki. Hanya sebatas kebebasan hati yang tak ingin aku rasakan. Hati ini terkunci atas segala kepedihan. Tak ingin aku membukanya lagi. Aku tak ingin menemui ataupun tidak sengaja bertemu manusia-manusia di sekitarku. Aku tak ingin merasakan sebuah bahkan banyak kebahagiaan jika hanya untuk mendapatkan kepedihan dan luka yang jauh lebih besar adanya daripada kebahaiaan itu. 

Malam, andai engkau tahu. Aku lelah dengan angan yang tak kunjung tercipta. Aku lelah merajut jutaan mimpi sedang tiada satupun bahkan tiada setetespun kemajuan. Aku lelah menjadi Sirna yang cacat. Aku lelah, sangat lelah. 

Tapi ketika aku mencoba meninggalkan angan dan mimpi itu, terlintas pemikiran seorang malaikat yang mencoba membangkitkanku. Kemudian timbullah banyak pertanyaan. Lantas apa gunanya tiga belas tahun aku bertahan? Apa gunanya aku berlaga untuk mencoba membangkitkan asa para sanak saudaraku di panti ini yang juga senasib dan sepenanggungan denganku? Lantas apa gunanya hari ini? 

Aku ingin mengubah cara dunia memperlakukanku. Mereka mengejekku yang lemah ini dan semakin membuatku berada dalam lembah keterpurukan. Sekali lagi mereka menertawakanku sehingga jurang keterpurukan itu harus aku lompati. Aku ingin dunia menyesal atas perlakuan mereka dan kemudian mengenang dan mengabadikan namaku nanti setelah aku mati. 

Malam bolehkah aku memintamu melakukan sesuatu? Tolong sampaikan pada Tuhan buatlah aku selalu mensyukuri kehidupanku. Buatlah aku selalu tersenyum dalam setiap cobaan dari-Nya. Tunjukanlah aku satu jalan menuju kebahagiaan abadi dari hal yang sulit untuk aku lalui, lanjutkan, atau aku sudahi ini. Buatlah pilihanku untuk tetap hidup mulai detik ini menjadi pilihan yang tepat, pilihan yang memang seharusnya aku pilih. Dan hindarkan aku dari segala macam bentuk kesedihan, kegalauan, maupun keterpurukan.

Peri Kecil yang Sirna (Berbahagialah dalam Kegelapan) #part3 - Kembali Berperang

Sesaat malam menjamu suasana gundahku malam itu. Beberapa hal yang terjadi minggu-minggu ini sempat membuatku kehilangan asa dan harapan. Aku yang berharap mendapat satu lagi kebahagiaan pun harus mengubur harapan itu dalam-dalam. Hari Senin kemarin ada sepasang suami isteri yang ingin mengadopsi anak perempuan seusiaku. Tetapi mereka tidak sama sekali menengokku. Aku yang berharap saat itu nyaris mengalami trauma. Mengapa hanya mereka yang bertubuh sempurna yang bisa merasakan kebahagiaan? Mengapa teman-temanku bisa mendapatkan orangtua sekalipun hanya orangtua angkat. Mengapa Tuhan? 

Sedangkan setiap waktu yang aku miliki aku gunakan untuk terus memohon kepada Mu yang Maha Agung. 

Dan hari ini, aku akan memeriksa keadaanku ke dokter bersama Bunda Lina. Satu minggu ini juga keadaanku turun, jauh dari stabil. Kerap kali aku mimisan, pusing, hingga pingsan. Entahlah apalagi yang terjadi pada diriku. Mungkin penyakitku ini bertambah atau mungkin aku sudah dekat dengan kematian. 
Biarlah. 

Aku pergi ke Dokter Gunawan yang menjadi dokter langgananku sedari dulu. Aku dibantu bunda menaiki kursi roda dan didorongnya aku hingga halaman depan, kemudian Pak Karjo membantu bunda menuntun dan menaikkanku ke dalam mobil milik yayasan. 

Sekitar pukul 10.48 aku tiba di kediaman Dokter Gunawan dan bunda langsung memberi tahu kondisiku. 
"Ia dok, belakangan ini Sirna sering mendadak pusing lalu mimisan disusul dengan pingsan. Kira-kira ada apa ya?" 

"Baiklah, lebih baik Sirna di bawa ke laboratorium untuk cek darah, ini surat rujukan dari saya, setelah itu hasilnya bawa lagi kesini. Atau begini saja, ibu dan kamu pergi ke rumah sakit, check up juga periksa darah baru setelah itu ibu bisa konsultasi lagi pada saya." ujar Dokter 
Gunawan 

"Baiklah kalau begitu kami permisi dok, terima kasih." 

Ada apa lagi ini Tuhan? Mengapa harus check up? Periksa darah? Kasihan bunda, aku yang sakit bunda yang repot. 

Hari itu juga aku mengikuti saran dokter, aku check up, periksa darah dan semacamnya. Tiga hari kemudian hasilnya pun keluar. Dan aku langsung konsultasi pada Dokter Gunawan. 

"Sirna, menurut hasil ini kamu terkena leukimia yaitu suatu keadaan di mana tubuh kamu memproduksi terlalu banyak sel darah putih. Biasanya ada faktor keturunan. Dan pengobatannya bisa menggunakan sumsum tulang belakang orangtua kandung kamu. Tapi bisa juga dengan alternatif lain seperti menjalani terapi. Kamu harus ingat jangan sepelekan penyakit ini, karna sangat berbahaya." 

Aku terdiam, sepanjang perjalanan pulang terngiang kata leukimia serta perkataan dokter tadi. 

Tuhaan, aku harus kembali berperang dalam peperangan yang belum aku menangkan sebelumnya.

Peri Kecil yang Sirna (Berbahagialah dalam Kegelapan) #part 4 - Tentang Perubahan

Pagi ini ku awali hariku dengan bernafas. Bernafas pada sesuatu yang beda. Bernafas menggunakan alat yang berbeda. Bernafas dalam persepsi yang berbeda. 

Pasalnya aku masih menentukan cara yang jitu untuk aku bernafas. Ya, kali ini bukan paru-paruku yg bernafas. Melainkan sebuah organ penawar racun yang akan menggantikan tugas sang paru-paru saat ini. Konotasinya hatiku yang akan bernafas. 

Hari ini bunda memutuskan untuk melakukan cangkok hati. Uangnya akan bunda kumpulkan lewat sumbangan-sumbangan sukarela. Haha betapa na'asnya diriku ini, hidup dari belas kasihan orang lain. 

Apa yang ku rasakan? Aku tidak tahu harus merasakan apa, aku sedih, kecewa, tapi juga bahagia. Aku sedih karena hidup diatas rasa kasihan oranglain. Aku kecewa mengapa harus dengan organ oranglain? Aku juga bahagia karena ada jalan untukku sembuh. 

Aku mulai merubah segalanya. Hari ini aku akan melakukan operasi besar. Yang mungkin akan merenggut nyawaku di tengah jalan. Hah, lindungi aku Tuhan.