Selasa, 16 Desember 2014

The Last Message

ku kosongkan fikiranku untuk sejenak ku lelapkan diri dalam mimpi. Membuai diri dengan angan yang tak jauh tentang cinta. Sudut demi sudut ku temui bayangan. Kelam gelap dan samar. Seperti bayangan wajah, tapi tak jelas bayangan siapa.
Hingga matahari membuat kening ku mengkerut. Ah sudah pagi ternyata. Dengan malasnya ku himpitkan kembali kulitku dengan ranjang di kamarku. Tiba tiba ku tersentak "oh Tuhan! Ini kan hari senin? Jam berapa ini?!" ku bergegas mencari hp untuk melihat jam. 06:20 dengan spontan ku tepuk keningku dengan telapak tanganku. Sial! Karna mimpi itu aku harus terburu-buru pergi ke sekolah.
Ku tinggalkan meja makan, aku pamit sambil berlari segera menuju motorku di garasi rumahku.
****
Disekolah Shifa dan El tampak gelisah menunggu kedatanganku. Mereka tak sabar ingin mendengar cerita tentang mimpi itu yang sebelumnya pernah datang juga di tidurku. Waktu menunjukan pukul 06:57. Tapi aku belum jua sampai di sekolah. Hingga bel pun berbunyi. "teet teet teet"
El pun menggerutu, "gila ni anak! Tumben banget telat ampe bel gini! Haduuh, udahlah masuk aja yok fa?!"
"yaudah deh, sorry ya daf gua duluan." sambung shifa.
Tak lama aku pun tiba dan langsung berteriak memanggil shifa dan el. "El!! Shifa!! Tungguin gue!"
Sambil membawa tas ransel dan beberapa jinjingan aku menghampiri mereka.
"haduh! Gara gara mimpi itu gue telat! Sial sial sial!"
"Jaelah emang dateng lagi tu mimpi?" sambar El.
"Ntar aja deh ceritanya, udah masuk tau!" ucap shifa.
Tak lama setelah kami masuk kelas, datang Pak Ujang guru mata pelajaran Pkn. Untung tugas tugas sudah ku selesaikan tadi malam.
Fuuh aku menghela nafas panjangku.
"Baiklah bapak akan mulai mengabsen terlebih dahulu."
Pak Ujang mengabsen dan aku masih sibuk mengibaskan kertas ke leher ku karena kepanasan.
"Daffa Aurelya Sagita" panggil pak Ujang.
"hadir pak!" sahutku.
Ya itulah namaku Daffa Aurelya Sagita kebanyakan orang memanggilku dengan sebutan Daffa. Aku adalah anak pertama dari dua bersaudara, aku duduk di kelas sepuluh di salahsatu SMA Negeri di Bogor. Aku mempunyai dua sahabat, Ashifa Perdana Pratiwi dan Ellias Mahdika Ananda. Mereka sahabatku sejak SMP. Mereka sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri.
Akhirnya bel pelajaran pun usai. Aku dan kedua sahabatku berkumpul.
"Non, ceritaiin!" pinta shifa dengan nada manja.
"oke, jadi gini semalem dan malem kemarennya gue mimpi. Gue dateng ke tempat yang sepi banget, disana ada satu ruangan. Kotor banget dan gelap juga tapi gatau kenapa ada sesuatu yang maksa gue buat masuk, setelah masuk gue perhatiin tiap sudut di ruangan itu. Di pojok kanan gue liat sosok cowok tinggi tapi karna ga jelas gue ga bisa ngenalin muka nya. Soalnya gelap banget. Kayanya tuh cowo kesepian gimana gitu. Gue jadi penasaran sama mimpi gue sendiri, fa, el."
"jiaah yaudah ntar malem lu lanjutin dah tu mimpi. Hahaha biar ga penasaran. Ntar kalo lu udah tau cerita lagi. Oke? Sekarang kita ke parkiran ngambil motor lu biar gue yang bawa gue mau ngajak kalian ke suatu tempat!" ujar el.
"yah gue ga ikut ya? Lemes banget nih." keluh shifa yang nampaknya memang tidak enak badan.
"yaah gaseru ah, tapi yaudah deh dari pada lu sakit. Istirahat ya dirumah." ujarku sambil menaiki motor.
"duluan fa! Daaah"
aku menaiki beat hitam milikku. tapi El yang memboncengku. Aku sedikit bertanya tanya, tempat apa yang ingin El datangi? di perjalanan El tak henti membawakan tembang nostalgia sewaktu kami masih smp. lagu itu dia nyanyikan dengan suka cita. Tapi tiba tiba El me-ngrem mendadak sehingga keningku terbentur helm nya.
"kenapa sih?! Sakit tau jidat gue!" teriak ku lirih
"sorry sorry daf, tadi ada kucing lewat jadi gue nge-rem mendadak deh." ujar El.
"jaelahh elliaas. Eh masih jauh gak sih? Pegel nih gue!" tanya ku geram
"noh di depan. Dikit lagi sampe kok!" seru el sambil menunjuk ke arah danau.
Rasa kesalku sedikit mereda. Danau itu terlihat cantik sekali. terdapat beberapa pohon besar di sekitarnya. Dan lihatlah banyak sekali pohon pohon mawar disekitarnya. Ada yang berwarna merah juga. ah elliaas, kau membuatku tenang saat ini.
"Nah udah nyampe, bagus kan tempatnya?" tanya el
"bagus el, bagus banget. gue suka banget!" ucapku dengan terkagum
"turun yuk kita maen disana!"
"yuk!"
Aku dan el bermain bercanda dan tertawa bersama disana. Rasanya tak ingin berakhir hari itu. Aku merasa ingin terus bersama el. Aku takut kehilangannya. Oh Tuhan apa ini?
Sementara itu el terus membuatku tersenyum membuatku lupa akan lelahku. Ku lepaskan penat disana bersamanya. Hingga tak terasa fajar pun telah di ufuk barat. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku mengantarkan el sampai rumahnya. Dan aku pun pulang ke rumah ku.
****
Di tempat lain Fathir orang yang ku sukai menghampiriku di tengah perjalananku menuju rumah. Fathir adalah orang pertama yang membuatku tak bisa tidur nyenyak dan selalu memikirkannya. Tak ku sangka hari itu dia menghampiriku.
"daffa hey! dari mana mau kemana?" tanya Fathir
"dari danau di bukit pelangi mau pulang. Fathir lu dari mana mau kemana?" tanyaku juga
"gue dari rumah temen mau balik juga. Hehe. Eh fa gue minta nomer hp lu dong!"
"ohehe mana hp lu sini gue save."
"oke thanks ya! Gue balik duluan."
"Iya samasama. Hehe. oke"
Aku tak menyangka hari ini aku merasa sangat bahagia sekali.
****
Sampai di rumah aku langsung mengirim pesan kepada el.
'el, thanks banget ya udah ngajak gue ke BP gue seneng banget hari ini. Oh iya tadi fathir minta nomer hp langsung ke gue loh. Seneng banget deh gue hari ini. Thanks banget ya!'
Ku tekan tombol send dan ku kirimkan ke nomor ellias.
Tak lama handphone ku pun berdering.
Ku tengok dari ellias.
'iya nona daffa samasama, hehe wah bagus dong. He'
Hah? hanya itu balasannya? Tumben sekali. Biasanya el akan mencablak sepanjang panjang nya. Ada yang aneh dengan diri ellias. Beda sekali, entah apa aku tun tak tahu menahu.
tertegun ku setelah membaca pesan singkat dari el. Masih terbesit di fikiranku tentang gaya pesan el yang berbeda dari biasanya. hati ini terus bertanya mengapa? ada apa? Ah mungkin aku hanya merasa aneh, mungkin saja tak ada apa-apa dengan el.
****
dirumahnya el nampak murung sekali tak seperti biasanya. Satu persatu laci meja di bukanya. Entah apa yang dia cari aku tak mengerti. Kemudian laci terakhir ia buka berharap yang dia cari dapat ditemukan, wajahnya cemas.
"ah, ini dia bukunya!" tegas ellias.
Sebuah buku yang ukurannya sedang, dengan cofer berwarna hitam telah dia genggam. Sepertinya itu buku harian miliknya, tapi sudah nampak kusam. Mungkin saja ia ingin mengingat kembali masa lalunya.
El mulai membuka lembar demi lembar atas buku itu. Kemudian ia memusatkan tatapannya pada halaman tengah. Jari telunjuknya terus bergerak sampai di akhir halaman. Dia baca dengan teliti sangat teliti. Dan kemudian bergegas mengambil bolpen dan membalikkan halaman buku tersebut. Dan mulailah el menulis. Mungkinkah dia menulis apa yang dia rasakan apa yang dia alami di buku itu? Atau dia hanya ingin mencoret coret buku itu? Entahlah aku pun tak tahu.
****
pagi ini, pelajaran dimulai pukul 08.30 karena ada pengumuman dan pergantian jadwal pelajaran. Entah mengapa aku merasa malas sekali hari ini. Ellias pun sepertinya tidak masuk hari ini. Sementara shifa masih sibuk menyiapkan karya karya ilmiah yang dia kerjakan untuk mengikuti lomba tingkat SMA se jabodetabek.
Hmm, rasanya ingin cepat berlalu pagi ini. Aku ingin segera pulang ke rumah untuk melepas penat.
Hmm tapi ada baiknya aku pergi ke rumah el untuk menanyakan ketidakhadirannya disekolah hari ini. Jika mengajak shifa pasti dia tidak bisa pergi bersamaku. Ya sudahlah biar aku saja yang pergi ke rumah el.
****
Setelah bel pulang sekolah tadi aku bergegas pergi meninggalkan sekolah. Aku langsung menuju parkiran sekolahku untuk mengambil motorku. Mengapa aku tak sabar untuk segera pergi ke rumah el. Entahlah mungkin aku kangen dia. Hihi aku tertawa kecil.
Saat aku hendak mengeluarkan motorku, nyaris saja motorku menabrak motor lain. Dan itu kan...
"Fathur? Sorry banget gue ga liat lu. Lu sama motor lu ga kenapa-napa kan?" tanyaku cemas.
"iya gapapa kok, gue sama motor gue gak kenapa napa kok. Selow aja sama gue mah. Lo keliatannya buru buru banget. Mau kemana?"
"gue mau ke rumah el, dia ga masuk hari ini. Sekalian maen aja. Hehe. Duluan ya!"
"oh iya sip!"
Ini untuk ke dua kalinya Fathir menegurku. Ah bahagianya aku hari ini. Kejadian ini akan ku ceritakan kepada el nanti sesampainya aku di rumah el.
****
Setelah sampai di rumah el, aku segera mengetuk pintu rumahnya dan mengucapkan salam.
"assalamualaikum.."
Kemudian terdengar suara dari dalam rumah yang menjawab salamku. Dan sepertinya itu tante lea, ibunya ellias.
Dan benar saja dugaanku.
"waalaikumsalam, eh daffa. Masuk sayang, ada apa kemari?"
"iya tante terimakasih. Aku mau ketemu el tante, tadi dia gak masuk sekolah kenapa ya tan? El nya ada gak tan?"
"dia sakit sayang, ada di kamarnya. Sebentar ya tante panggil dulu." 
"iya tante terima kasih."
Jadi dia sakit, hmm sakit ap ya dia. Jadi penasaran hihi.
"ada apa daf?"
"eh el, lo sakit apa? Kok gak bilang bilang sih?"
"cuma gak enak badan aja kok."
"udah minum obat lu? Makanya jangan kebanyakan maen hehe."
"alaaah kan maennya juga sama lu fa!" ujar el sambil mengelus kepalaku.
aku tersipu, wajahku mungkin memerah karna kata kata itu. ahh el pertanyaan yang sebelumnya aku tujukan untukmu kini menjadi boomerang untukku. ada apa denganku?
****
akhirnya setelah tiga hari berdiam diri di rumah karena sakit akhirnya el pun berniat untuk sekolah. tapi anehnya pagi buta sekali dia melarangku membawa motor dia bilang sih ingin menjemputku. dan benar saja pukul 06:15 el sudah berdiri di gerbang rumah ku. Ada yang beda sweater biru yang melapisi seragam putih abunya membuatnya tampak tampan. Ahh apa sih aku ini, mengapa ku jadi mengkomentari nya?
Tapi dia tidak membawa alat transportasi apapun sepengelihatanku. apa mungkin dia ingin mengajakku berjalan kaki sampai sekolah? ah tidaak bisa bisa betisku membengkak.
"Pagi daffa.."
"pagi juga ellias, el kita mau kesekolah jalan kaki? Yang bener aja?"
"ya enggalah daf, bentar gue tunjukin sesuatu." el pergi ke balik gerbang disusul aku yang mengikutinya.
"jreng jreeng. Kita kesekolah naik sepeda!" jelas ellias.
"haha, sekarang mah lu yang bonceng gue ah, waktu smp kan gue yang bonceng lu! Deal?"
"oke siapa takut! Deal!"
Setelah melalui kesepakatan akhirnya kami pun berangkat menuju sekolah. disana sudah ada shifa yang masih juga sibuk dengan karya ilmiahnya. Beberapa hari ini kami jadi jarang pergi bertiga, pasti saja hanya aku dan el. Saat el sakit pun dia tidak sempat menjenguk. Padahal aku ingin sekali menghabiskan waktu bertiga dengan el dan shifa.
"shifa sibuk banget ya? gue sama el pengen maen sama lu."
"iya daffa, maaf ya tenang aja satu minggu lagi kok. Gue ke lab ipa dulu ya. Dadaah!"
"iya iya."
Huh, seminggu itu kan bukan waktu yang sebentar. entah kenapa mood ku tiba tiba jelek, hawanya ingin terus cemberut. Aku merasa rasa bosan sedikit demi sedikit mendekat dan akan menyergapku. Ah biarlah aku pun tak dapat melakukan apa apa.
Tiba tiba ada seseorang yang masuk ke kelas sweater merah hati itu, fathir. Oh tuhan dia menghampiri ku.
"fa, pas acara study tour nanti lu di bus berapa?"
"bus 6 kenapa emangnya?"
"ooh gapapa kok, cuma nanya. Thanks ya!"
Dia ke kelasku untuk bertanya tentang bus? Aah senangnya hatiku ini. Mood ku langsung berubah menjadi gembira. Asiik!

****
minggu ini nampaknya aku tak dapat pergi kemana-mana. Badanku semalaman ini panas sekali, jadi mama menyarankan agar aku tetap tinggal di rumah. Padahal hari ini ada acara keluarga yang cukup penting, tapi apa boleh buat. Aku ditinggal sendiri tanpa seorang pun yang menemaniku.
"gue boseen" ucapku lirih sambil memegang kepalaku yang sakit.
Aku terus diam di tempat tidur, tiba-tiba terfikir ide untuk ke luar menghirup udara segar mumpung masih pagi. Saat ku buka jendela kamarku, ku perhatikan setiap sudut yang terlihat dari jendela kamarku itu. Aah tak ada siapa siapa sepi sekali hanya suara kendaraan yang hilir mudik di jalan. Tiba tiba ku dengar suara yang memanggil namaku. Arah datangnya dari bawah.
"el? Ngapain lu disini?" aku berteriak sambil melambaikan tangan yang mengisyaratkan agar el masuk ke rumahku.
3 menit kemudian el tiba di kamarku dan langsung melempar tas ke tempat tidurku. Baju putih abu nya masih rapi seperti baru di strika.
"ga sekolah?"
"bolos, gue mau nemenin lu fa. Kasian kan kalo sahabat gue yang paling gue sayang ini dibiarin di rumah sendirian."
"tapi kaan.."
"udah nyantai aja."
Akhirnya kami sepakat untuk bermain congklak. Aku yang sedang sakit pun merasa baik setelah kami tertawa bersama.
Semoga ini bukan yang terakhir kalinya aku dan el dapat seperti ini.
Sudah pukul 7 malam tapi keluargaku belum pulang juga. El pun masih menemaniku. 
"ngantuk el.."
"ya udah tidur aja gue tunggu ampe lu tidur baru gue balik."
Dan benar saja apa yang dia katakan. Dia belum pulang jika aku belum terlelap. Tapi aku tau dia membelai rambutku penuh kasih sayang dia kecup keningku seakan akan ini hari terakhir kami bertemu. Dan dia mengucapkan 'selamat tinggal daffa, get well soon ya, gue sayang lu'
entah mengapa malam ini aku merasa rindu sekali pada el, padahal hari ini aku bersamanya. dan entah mengapa malam ini kembali aku bermimpi tentang sosok lelaki yang tengah berdiri di sudut ruang gelap itu. Tapi kali ini dia mengeluarkan suaranya yang terdengar lirih, seakan berada dalam kepiluan dan kerinduan yang tak mampu terelakan olehnya. Aku miris mendengarnya, ingin ku hampiri ku tanya ada apa dengannya, tapi rasa takut ini terus menerus menyanderaku. Aku takut untuk ke sana, aku takut untuk menemuinya. Aah, entahlah yang jelas aku penasaran dan aku merasa harus menemuinya.
Langkah demi langkah ku pijakkan di ruangan ini, menyusuri setiap misteri yang tersirat lewat suara nya. Suara itu semakin jelas! Jelas! Suara itu seperti sering ku dengar, seringku berkutat dengan suara itu. Tapi siapa? Siapa pemilik suara itu?
Sekarang aku berada tepat di belakangnya, tanganku gemetar saat ku angkat sedikit demi sedikit untuk memegang bahunya. Tapi sebelum ku memegangnya..
"Ellias.." aku kaget saat dia membalikkan badannya. Dia sahabatku, sahabat yang sangat aku sayang. Tapi mengapa dia bersuara lirih? Mengapa dia ada disini? Mengapa dia hanya seorang diri disini?
Aku masih terdiam tak percaya bahwa orang dalam mimpiku selama ini adalah dia.
Dari sini baru ku sadar, dia tak seceria yang aku lihat, dia tak setegar yang aku rasa. Banyak pertanyaan yang menusuk langsung menuju batinku, tapi aku tak dapat mengucap apapun.
Keberanian harus ku kumpulkan, harus ku kumpulkan. Aah ya, ya harus..
"lu kenapa el?" tanyaku seraya mencoba menggenggam tangannya. Berhasil, berhasil ku genggam tapi..
"el!! Lu kenapa el?! Bangun ellias bangun!"dia terkapar lemas tak sadarkan diri di pelukanku. Sekujur tubuhnya dingin dan lemas. Dan tiba-tiba aku terjaga.

Ya Tuhan mimpi itu nampak nyata bagiku. Ellias.. Ya aku harus menanyakan keadaannya segera.
Aku mengambil hp ku yang berada di meja. Tak peduli betapa sakitnya kepalaku saat itu, yang ada dalam fikiranku hanya el, ellias sahabatku.
Ku rapatkan jemariku pada handphone ku dan ku sentuh tombol tombol untuk segera mencari kontak el.
"ketemu!" ucapku kecil. Segera ku hubungi nomer itu berharap tak terjadi suatu apapun pada el.
Tapi entah mengapa nomernya sibuk sibuk dan sibuk.
Tuhan aku takut, aku takut kehilangannya Tuhan..
ak terhenti hanya pada satu usaha, aku bergegas mengambil sweater pink kesayanganku dan berjalan menuju rumah el yang berada tak jauh dari rumahku. Tepat pukul 4:00 aku berlari kesana, tak peduli gelapnya jalan pagi itu, tak peduli betapa lemas tubuh ku ini untuk berlari. Karna yang ada difikiranku hanya satu, aku harus menemui el.
15 menit kemudian aku telah berdiri berada di depan pagar rumahnya. Ku tengok ke sebelah kiri, ku lihat ada satpam yang sedang berjaga disana. Ku hampiri beliau untuk bertanya.
"permisi pak, keluarga ellias ada tidak ya pak di dalam?" tanyaku
"mereka kan sudah pergi ke singapur tadi malam."
"singpur? Untuk apa?"
"entahlah."
"boleh saya masuk ke dalam pak?"
"oh ya silakan."
aku mulai memasuki rumah el sambil terus bertanya tanya mengapa dia pergi tanpa memberi tahu ku? mengapa dia tak mengucapkan selamat tinggal? Hingga tak terasa aku telah ada di depan kamar el. Ku buka pintu kamarnya, dan yang ku temukan kamar itu kosong tak berisi. gitar keramat miliknya pun tak ada, boneka pemberian dariku saat ulangtahun nya yang ke 13 pun tak ada. dan ini menandakan ia akan pergi dalam waktu yang lama. Tak kusangka semuanya begitu cepat.
Aku melihat meja kecil di sebelah tempat tidurnya, meja itu tempat biasanya el menulis, menaruh laptopnya, dan biasanya terpajang fotoku shifa dan dia..
Miris sekali hati ini mengingat betapa seringnya kami menghabiskan waktu bersama. Kini tak ada apa apanya lagi.
Saat ku mendekati meja itu, ada sesuatu yang ku injak. Kemudian ku lihat ke bawah.
"sebuah buku harian?"pikirku.
Kemudian aku duduk di ranjangnya dan membuka halaman demi halaman dari buku itu.
Halaman pertama ku lihat ada fotoku dan dia yang saat itu sedang pergi berwisata, ya aku ingat itu. Ku buka halaman berikutnya dan ku baca satu persatu.
Tiba tiba ada yang mengagetkanku. Di halaman pertengahan el menulis 'gue sayang daffa lebih dari sahabat gue, tapi gue tau gue gaakan pernah bisa sama dia. Karna hidup gue gaakan lama lagi.' oh Tuhan apa maksudnya. Apa maksud dari kata kata hidupnya tak kan lama lagi? Apa itu alasannya pergi?
Ku lanjutkan untuk membaca, 'gue cape jadi penderita kanker hati, gue cape!' rasaku seperti terbesit pisau tajam. Air mataku tumpah membayangkan nya. Dia yang selalu menyemangatiku ternyata tak seberuntungku.
'gue harus pergi meski berat buat ninggalin lu fa.'
Jadi benar adanya dia pergi karna penyakit itu? Tuhan sembuhkan dia, selamatkan dia, jangan ambil dia dariku. Aku, aku, aku pun menyayanginya Tuhan.
Air mata ini semakin deras tercurah. Kini tinggal lembar terakhir yang harus ku buka. 'jika cintaku tak kuasa memilikimu, izinkan aku mendekapmu, menghafal setiap desah nafasmu. Menghafal setiap detak jantungmu. Mencium aroma tubuhmu yang mungkin tak dapat ku temukan lagi.'

Aku berlari keluar ku bawa buku itu dan ku pergi ke taman. Aku menangis sekuat kuatnya. Aku tak rela jika harus kehilangannya aku tak rela!
Disaat aku menangis tiba tiba ada yang menepuk punggungku.
"jangan menangis, el pergi untuk lu." fathir dia datang di hadapku berusaha menenankanku.
"tapi sampai kapan gue harus nunggu? Gue khawatir sama dia, gue takut dia kenapa-napa!" jawabku sambil terus menangis.
"biarin gue jaga lu fa, selama ellias ga ada. kita tunggu dia bareng-bareng. Sama shifa juga."
"tapi..."
"ssst, lu harus yakin, dia pergi untuk kembali."

mulai hari itu aku melakukan aktivitas rutin ku seperti biasa tanpa sosok el. Aku dan shifa itu yang tersisa, meski fathir berusaha menggantikan el di hati kami, tetap tak dapat terganti. Miris memang ketika kita harus kehilangan sahabat yang sudah bertahun-tahun bersama―terlebih aku mengakui bahwa ada rasa yang lebih dari sekedar sahabat.
Hari ini adalah hari kelulusan bagi kami yang sudah duduk di 3 sma. Besok malam sekolahku akan mengadakan prom night. Tapi tak ada semangat sedikitpun bagiku dan shifa. Malah menambah rasa rindu kami pada el, yang tak sedikitpun memberi kabar. Yang ada di fikiranku saat itu apakah el sudah tak ada? Ah seharusnya tak boleh ku berkata seperti itu. Apapun yang terjadi aku harus yakin el sembuh.
****
8 tahun berlalu tanpa kehadiran el yang membuatku semakin bertanya-tanya bagaimana keadaan el? Apakah dia tidak mengingatku samasekali? Terlebih dia yang memiliki perasaan lebih terhadapku?
Tak tahu lah, seharusnya aku tidak memikirkannya lagi, karena besok aku akan menikah dengan fathir, harusnya aku bahagia tapi entah mengapa aku merasa sedih, sedih karena bukan el nanti yang mendampingiku.
Tiba-tiba telfonku berdering.
"iya shif, ada apa?"
"daffa, gue dapet kabar kalo nanti malem el bakal balik kesini!"
Atas pernyataan yang di berikan shifa aku terkejut bukan main, entah apa yang kurasakan, aku bahagia tapi aku juga sedih mengapa baru hari ini mengapa tidak sebulan yang lalu sebelum fathir melamarku.
"apa? emm, nanti malam?"
"iya daffa, katanya pesawatnya take-off jam 8 malem."
"dimana fa?"
"di soe-ta"
"oke thanks fa, I'm really want to meet him, I'm really miss him."
"go baby, go to him, he is your love. I know that."
"thank you shifa, you're my best of the best friend I have."
"okay baby, you also like this."
"oke bye!"
"bye!"

Setelah menutup telfon aku segera pergi mengambil sepeda motorku untuk pergi menjemput el, belum terlambat, ini masih pukul 6 sore. Tak peduli betapa besar hujan malam itu, tapi aku terobos demi el.
Tapi, tak sadar di belakangku sedang ada bus yang melaju kencang, aku tetap santai mengendarai motorku. Hingga saat ku menyadarinya itu adalah tidak mungkin untukku mengelaknya. Dan saat itu juga kecelakaan terjadi.
Aku di bawa ke rumah sakit terdekat dengan tak sadarkan diri. Shifa dan keluargaku segera datang melihat keadaanku.
1 jam kemudian aku sadar dari pingsan ku. Aku sempat bicara pada keluargaku, dan terakhir dengan shifa.
"daffa maafin gue, ide gue bikin lu kaya gini." shifa menangis sambil memelukku.
"gua titip mama sama papa ya, gua juga titip fathir sama el, tapi fa gua boleh minta tolong buat yang terakhir." bicaraku lirih sambil menahan rasa sakit.
"iya apa fa? Apapun gua lakuin buat lu." shifa sudah mengerti bahwa aku sadar pun adalah suatu keajaiban, jadi dia tak mengungkit tentang kata-kata ku tadi.
"tolong ambilkan bolpen dan kertas."
"iya. Ini gua bawa bolpen sm kertasnya." shifa mengeluarkannya dari dalam tas miliknya.
"makasih ya" aku kemudian menulis sebuah surat untuk el, mungkin ini adalah pesan terakhir untuk el.
"tolong kasihin ini sama el ya fa. Trima kasih." aku menghembuskan nafas terakhirku disini, saat ku berjalan mencoba menemukan cintaku. Mungkin inilah yang dinamakan cinta yang tak harus memiliki.

*****
akhirnya hari ini aku kembali ke sini, setelah 8 tahun aku pergi untuk menyembuhkan penyakitku ini. Kini aku dapat bicara mengenai perasaanku yang tak pernah berubah pada daffa. Aku yakin daffa pun memiliki rasa yang sama.
Ternyata pesawat kami take-off lebih cepat 30 menit, jadi pukul 19.30 kami sudah ada di bandara. Aku segera mencari taxi dan meninggalkan keluargaku di bandara. Aku bergegas ke rumah daffa.
Di perjalanan yang ku fikirkan adalah wajah gadis yang manis manja dan menyebalkan, tapi entah mengapa ada perasaan tak enak terselip di hati dan otakku. Ah entahlah yang penting sebentar lagiaku tiba di rumah daffa, dan itu dia rumahnya.
Aku bergegas keluar taxi dan berlari menuju gerbang rumah daffa dalam gerimis malam itu.
Tapi mengapa banyak sekali orang di rumah daffa? Ada apa ini?
Demi mengetahuinya aku berjalan langkah demi langkah dan kini aku ada di depan semua orang, hah? Ada yang meninggal? Siapa?
Itu ada shifa, daffa dimana?
"shifa?"
"el, daffa.." shifa bicara sambil lirih, dan kemudian ia menangis dan menunjuk ke arah jenazah itu.
aku belum pernah menangis sebelumnya. tapi kali ini air mata ini jatuh menetes secara tiba-tiba. betapa besar rasa sayangku padanya. betapa lama penantianku untuk sembuh dari penyakitku ini. semua sia-sia! yang aku tunggu, yang aku nanti, yang aku sayang kini telah pergi meninggalkan aku. bukan untuk sesaat atau untuk mencari sesuatu yang fana. tapi untuk selama-lamanya.
saat terakhir ku peluk dia, ku cium hangat-hangat keningnya yang sudah dingin membeku. kaku terkujur lemas tak berdaya dalam selimut kain putih yang menutupi seluruh permukaan tubuhnya. ini untuk yang terakhir kalinya aku membiasikkan sebuah kalimat di telinganya. yang tak akan mungkin pernah ia dengar. aku menyayangimu..


"el," tegur shifa yang tengah berlutut di belakangku dan memberiku selembar kertas.
"ini surat dari daffa buat lu el, sebelum dia meninggal dia nulis pesan ini buat lu."
"oke thanks ya shif."

Ku buka dan ku baca kata demi kata dari pesan tersebut. Pesan terakhir untukku dari daffa. Semakin menjadijadi air mataku. Tumpah mengalir membasahi pipi dan kertas itu.

Kini aku mengerti semua, semua yang telah membuatku penasaran. Aku dapat lebih tenang dalam menjalani hidupku. Dia memang telah pergi, tapi cintanya tak pernah mati, selalu hidup dalam hati bersama kenangan indah saat dengannya yang selalu melekat dalam memori abadi dalam otak kecilku. Mencintaimu menyayangimu daffa, adalah suatu kebahagian yang tak ternilai adanya.

*****
ellias sahabatku..
Jujur aku rindu sekali hadirmu, dalam hariku hanya dapat ku jumpai bayanganmu. Tak pernah ingin ku lepaskan seluruh kenangan indah denganmu. 8 tahun tak berjumpa adalah waktu yang terlampau untuk membuat hatiku rapuh. Selalu ku berusaha tegar atas kepergianmu, meski aku tau tujuanmu itupun lewat buku harian yang aku temukan di kamarmu. Lewat buku itu pun aku mengerti bahwa kamu memiliki suatu perasaan yang mungkin melebih arti sebuah persahabatan. Dan mungkin itu juga yang ku rasakan padamu sahabatku.
Kebersamaan yang telah kita lalu membuat ku sadar akan arti sebuah kasih sayang. Aku telah memiliki perasaan yang luar biasa untukmu.
Tapi sayang saat kita akan bertemu, takdir berkata lain. Aku harus mendahuluimu menuju tempat yang paling indah di sana.
Teruslah berjalan apa ada nya, jangan sia siakan hidupmu. Jika aku tak dapat memilikimu di dunia ini izinkan aku menunggumu di surga.
Salam sayang, daffa


devina gary oktiana
2010

Bingkisan Terakhir

Aku pernah bermimpi menjadi ikan-ikan kecil yang ada di laut lepas. Bebas berenang kemanapun mereka mau tanpa menghiraukan apa-apa yang dapat membahayakan mereka. Berselancar di tengah-tengah hiu raksasa tanpa ada rasa takut. Aku ingin bermain bersaama seperti halnya ikan-ikan itu yang bermain bersama-sama kelompoknya. Bergembira, bercanda, menyusuri dalamnya laut biru dengan kebersamaan. Aku tak akan perduli akan keberadaan ikan-ikan besar yang berada diantara aku dan kawananku. Karena merekalah yang akan menuntunku ke jalan yang seharusnya aku lalui, membuatku tetap pada barisan hingga aku tiada akan pernah tersesat.
Tapi apalah, terkadang apa yang kita impikan terlalu indah, sehingga saat kenyataan yang tak mengindahkan itu datang kita kesulitan untuk membedakan antara mimpi dan kenyataan. Tapi itulah tantangannya. Saat kita harus membangun mimpi setinggi dan seindah mungkin dan siap sedia setiap datang badai menerpa dan meruntuhkan istana mimpi yang telah di buat.
Begitupula aku yang selalu di tuntut untuk menjadi kuat dalam segala hal. Aku harus kuat dan mampu melewati masa-masa kritis ku di rumah sakit kala itu. Aku harus kuat dan merelakan kepergian kedua orangtuaku. Aku harus mampu menjadi kakak juga orangtua untuk kedua adikku di tengah kesulitan ini dan aku harus bertahan hidup. Tak hanya untuk hidupku, tapi uga mempertahankan hidup kedua adik perempuanku yang semuanya masih di bawah dua belas tahun. Dan aku adalah wanita yang KUAT.
Sejak orangtuaku pergi tiga tahun yang lalu, aku sudah terbiasa hidup dengan kesederhanaan dan aku pun sudah bersahabat dengan terik matahari, debu, polusi, keringat, lelah, dan segala-galanya. Tapi aku tak sungkan untuk terus berusaha menyunggingkan senyum tanpa keluh.
Ibuku pernah berkata, “menjadi seorang yang dewasa itu tak semudah mengubah seseorang menjadi anak-anak. Kedewasaan itu lahir ketika sebuah ataupun beribu masalah menghampiri berusaha menikam kita secara perlahan dan bertubi-tubi. Tapi ibu yakin bahwa kau akan menjadi dewasa dengan atau tanpa dasalah, dengan atau tanpa ibu jua ayah, dengan atau tanpa sebuah kebahagiaan. Jangan pernah merasa dirimu dewasa sebelum kau mengerti bagaimana cara untuk menghargai dirimu sendiri terlebih orang lain.” itulah perkataan ibuku yang masih senantiasa melekat dalam ingatanku sebelum orangtuaku meninggal dalam kecelakaan itu. Saat mereka hendak memberiku kejutan pada hari ulang tahunku yang ke-14. Dan sejak itu juga aku tidak pernah lagi merasakan hangatnya pelukan ibu, lembutnya belaian ayah, ciuman di kedua pipiku sambil berbisik “Selamat ulang tahun Karra”
Kini aku tetap tinggal di rumah ibu dan ayah. Toko kue peninggalan ayah masi buka dan aku sebagai pengelolanya. Aku sekolah sembari bekerja. Sekolahku hanya tersisa kurang dari satu tahun lagi. Dan selepas itu saatnya aku bekerja dan bekera untuk kedua adikku, Nania dan Asha Menyekolahkan keduanya. Dan jika mampu, aku pun ingin mengejar impianku. Membangun sebuah perusahaan keluarga yang akan membuat adik-adikku tak perlu lagi berpanas-panasan untuk tiba di sekolah mereka. Perbedaan usia yang cukup jauh dengan kedua adikku tidak membuatku merasa cemas. Karna aku wanita yang kuat.
Di sekolah, aku tergolong anak yang pintar dan mudah bergaul. Aku memiliki banya teman tapi hanya satu dari sekian banyak teman yang benar-benar terikat jiwa dan raganya dengan jiwa dan ragaku. Kami berdua adalah satu. Satu hati, satu jiwa, satu pikiran, juga satu tujuang aku perduli padanya dan dia pun begitu. Jika aku susah, dialah seorang malaikat menolong dan memberiku butir-butir keajaiban yang membuatku lebih tegar.
Dialah malaikatku. Bagiku dia adalah segalanya. Pelukisan tentang dirinya kehidupan nya adalah hal yang paling membuatku remangat. Dia adalah kakakku, dia juga ayahku, dia guruku, dia juga pelatihku, dia juga sahabatku, dialah kotak posku, dialah buku harianku, dialah partner kerjaku, dialah belahan jiwaku, dialah supirku, dialah penjual bunga pribadiku. Dia juga dokter pribadiku. Dia satu-satunya tempat aku menyandarkan bahuku dan terlelap tidur di pelukannya. Dia satu-satunya 'orang asing' yang paling dekat dengan keluargaku. Dialah Ananda Miko, sahabatku.

*****
Beberapa hari yang lalu, aku dan Miko menanam sebuah tanaman. Tepatnya bunga matahari di pekarangan rumahku. Miko memberi bibitnya sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-16. Dia memberinya sambil berkata "Rawat bunga ini baik-baik jika nanti kita tidak bisa sesering ini bertemu. Datang dan ciumlah kelopak bunga ini maka aku dapat merasakan bahwa kamu sedang merindukanku, Ra."
Dengan ketulusan dari matanya, aku yakin dia tidak akan sampai hati untuk meninggalkanku. Tapi dari cara bicaranya seperti ada sesuatu yang tersembunyi dan sengaja ia sembunyikan dariku.
Setelah hari itu semua berjalan seperti biasanya. Tak ada yang berubah. Seperti biasa pula aku mengantarkan Asha dan Nania ke sekolah mereka masing-masing dengan mengayuh sepeda beroda dua itu. Dan aku pergi melanjutkan lancongan ku ke sekolahku sendiri. Dikelas, aku bertemu dengan Miko, tapi ada sedikit perbedaan dalam raut wajah Miko. Pagi itu dia tampak pucat. Warna bibirnya berbeda dari biasanya. Pagi ini warna bibirnya lebih keunguan. Matanya terlihat begitu sayu. Dan muncul keringat dingin di sekitar wajahnya.
"Miko, kamu kenapa? Sakit? Coba aku check." tuturku pelan sembari menaruh tanganku di keningnya untuk men-check temperatuh tubuhnya. "Badan kami dingin sekali, Mik. Lebih baik kamu ke UKS. Agar mendapat perawatan dari dokter yang ada di UKS,"
ujarku sembari menaruh tasku di sisi mejanya.
"Tidak perlu, Ra. Aku baik-baik saja kok. Hanya sedikit kelelahan saja." jawabnya lesu lebih pelan dari suaraku yang sudah cukup pelan.
"Tapi Miko..."
"ssst" potongnya sambil menempelkan telunjuknya di bibirku. "aku baik-baik saja Karra, kamu tenang saja. Lebih baik kamu duduk disini. Aku ingin bersandar di bahumu lagi." tuturnya semakin pelan. "yasudah, sini." jawabku sambil menyandarkan kepala Miko ke pundakku. Aku tahu seruatu dari diri nya dan langsung bicara padanya.
"Kamu bohong Miko. Kamu sakit." Tuturku penuh perhatian. Tapi tak terjawab sama sekali. Satu menit, dua menit, sepuluh menit. Aku berfikir barangkali dia tertidur.
Hingga akhirnya bel pelajaran pertama dimulai dia tak kunjung jua terjaga. Ketenanganku saat itu seketika beralih haluan menjadi kecemasan. Terlebih ketika aku mencoba menggoyangkan tubuh Miko dan memaksanya untuk bangun tetapi sia-sia. Tubuhnya yang semula gemetar kini tenang dengan suhu yang kian lama kian dingin membeku bak es di kutub selatan. Seketika air mataku menetes membasahi kepala Miko yang sedang bersandar di bahuku tanpa gerakan sekecil apapun. Entah mengapa air mata itu jatuh, debar jantungku semakin cepat, semakin membuatku tak karuan, aku gelisah, aku cemas. Dengan spontan aku berteriak mengheningkan suasana, "TIDAAAAK!!!!" Semua orang menoleh ke arahku saat itu. Air mataku pun tak dapat terbendung lagi dan menetes di tubuh Miko. Ku peluk erat tubuhnya yang terkujur kaku. Ku peluk dengan eratnya sambil terus menangis. Ku dapati telinganya dan perlahan ku bisikkan sesuatu dengan teramat pelan. "selamat jalan Miko. Finally i've been alone all along without you."
Ya! That's right! Miko telah meninggal dunia karena hasil diagnosa dan vonis dokter yang menyatakan bahwa ada kanker pada kelenjar getah bening dalam tubuhnya yang telah berada disana sejak lama. Sejak ia kecil, sejak ia belum bertemu denganku. Ia meninggalkan banyak sekali kenangan manis saat kami berdua berjalan beriringan di pinggiran trotoar kota siang itu. Kenangan akan semua cinta dan cita yang ia pernah tunjukan kepadaku.
Hilanglah satu nama lagi dari pelupuk mataku setelaq ayah dan ibu, kini satu-satunya orang yang menjadi tonggak hatiku pun kini telah gugur. Saat-saat ini adalah saat terburuk ke-2 dalam hidupku. Pakaian hitam-hitam inilah yang akan membawa ku ke tempat peristirahatan terakhir Miko. Nania dan Asha juga turut mengantarkan kakak laki-lakinya ke dalam liang lahatnya. Miko, Miko, dan Miko, hanya nama itu yang terfikir olehku jejak dan sampai saat ini tepat 100 hari kepergiannya.

*****
Sore itu, saat aku mengantarkan adikku pergi ke Taman Pendidikan Al-Quran untuk belajar mengaji, aku berpapasan dengan seorang pemuda yang nampaknya sebaya denganku. Entah siapa, yang jelah dia telah membuatku sedikit tersandung dan jatuh. Matanya dan caranya menatapku mengingatkanku akan seseorang yang sangat dekat denganku. Seseorang yang biasa menyapaku cukup dengan dua huruf R dan A. Dia mengingatkanku akan...
"Maaf ya! Aku tadi tidak sengaja!" ucapnya membuyarkan fikiranku dan membangkitkan dari lamunanku.
"Oh, iya tidak apa-apa kok." aku sedikit mengulas senyum dan dia pun berbalik senyum terhadapku.
"Benar nih, kamu baik-baik saja? Kalau mau bisa ku anar kau pulang." ujarnya dengan sedikit tertawa.
"Iya jujur aku baik-baik saja. Benar." jawabku meyakinkan nya.
"Oh ya! Aku Revo, baru pindah ke sini."
"Karra. Oh, pantas saja aku tidak pernah melihat kau sebelumnya. Kalau begitu aku permisi pulang dulu."
"Oh, iya baik silahkan."
Pertemuan itu, aku harap yang terakhir kalinya karna sangat benar wajahnya mengingatkanku pada ... MIKO ... Tapi tidak dengan cara berpakain nya. Miko lebih lembut sedangkan Revo terkesan 'slengean'.
Tapi ternyata harapan itu tak terkabulkan. Pagi itu di sekolahku, lebih tepatnya lagi di kelasku ada siswa baru pindahan dari luar kota. Dan God! Dia.. REVO!! dan karena satu-satunya bangku yang kosong itu adalah bangku yang ada satu meja denganku. Bangku yang biasanya di duduki oleh MIKO kini harus di tempati oleh orang lain. Sedikit banyak rasa emosi, tetapi tetap saja disi sekolah yang mengatur. Tapi mengapa harus Revo? Revo yang mengingatkanku akan sosok Miko, Revo yang membuatku semakin merindukan sosok Miko. Ananda Miko dengan Rayhan Revo Saputra.
"Karra!" dia tersenyum dan seperti pertama kali kami bercakap. Dia membuyarkan lamunanku.
"Hah? Iya. Kenapa?" aku yang sedikit kaget bertingkah seperti orang yang habis di buru penjahat. Nafasku tak teratur. Jantungku berdegup dengan kencangnya. Pipiku merah merona.
"Oh, nggak ada apa apa kok, aku hanya menyapa saja. Aduh maaf ya aku jadi membuatmu seperti kepiting rebus gitu. Hehe" dia tertawa kecil.
Oh Tuhan dia meledek ku. Pemikiran yang sempat terbesit bahma dia seperti Miko hilanglah sudah. Dia berbeda dengan Miko. Sangatlah berbeda.
Aku tetap pada pendirian yang aku buat saat itu that REVO ISN'T MIKO! NOT NOW AND NOT FOREVER!!! Tapi semakin aku ingin menjauh dari Revo semakin dia berusaha untuk tetap membuatku berada di dekatnya. Aku pernah sesekali memberontak mengapa dia bersikap seperti itu. Tapi itu tak mengurungkan niatnya untuk menjauhiku. Ada yang aneh dan tersembunyi dalam dirinya.
Semakin hari dia semakin menunjukkan perhatian nya padaku jua pada kedua adikku. Suatu hari dia pernah membuntutiku saat mengantarkan adikku ke TPA dan saat tiba waktunya pulang aku telah tau bahwa Asha telah di bawa pergi oleh Revo. Asha bermain-main dengan Revo. Dia terlihat senang sekali. Ini pertama kalinya aku melihat Asha sesenang itu setelah kepergian Miko.
Semakin lama aku semakin merasa bahwa Revo adalah bayangan dari Miko. Bahkan sempat aku berfikir bahwa arwah Miko masuk ke dalam tubuh Revo, bahwa Revo adalah jelmaan dari arwah Miko. Tapi itu sangatlah mustahil. Aku terus mencari alasan-alasan yang masuk akal tentang keberadaan Revo yang tepat sekali kemunculannya dengan ketiadaan Miko. Entah apa tujuan Revo masuk ke dalam kehidupanku. Dia mencoba bermain dengan Asha, mengajaknya pergi, membelikannya balon dan ice cream seperti yang pernah Miko lakukan. entahlah aku tidak mengerti. sungguh.

*****
Hari itu ban sepedaku bocor. entah ada yang sengaja membocorkan ban sepedaku entah aku sendiri yang teledor. Tak tahulah yang jelas karena hal itu aku harus pergi kesekolah berjalan kaki.
Saat aku telah menapaki setengah perjalanan, ada bunyi lonceng sepeda berdering dari balik telingaku.
"Kring-Kring.. kring-kring"
Ah, paling hanya seorang penjual siomay, fikirku. aku terus melanjutkan perjalananku menuju ke sekolah tiba-tiba sebuah sepeda yang di kendarai seorang anak laki-laki yang sepertinya sebaya denganku menghadangku dan berhasil mengagetkanku.
"KARRA!!!" sapanya jahil.
"Astagfirullah, Revo! Kamu membuat jantungku hampir copot tahu!" Sahutku dengan jantung yang masih berdegup kencang karena kaget.
"Ya maaf deh. eh kok tumben sekali kamu tidak membewa sepedamu. memangnya ada apa dengan sepedamu?" tanyanya.
"Ban sepedaku bocor, entah apa penyebabnya sehingga aku harus berjalan kaki hingga sampai di sekolah.
"Yasudah kalau begitu naiklah ke sepedaku. biar ku antar kamu."
"benarkah?"
"ya, cepatlah naik. kecuali kau ingin kita terlambat masuk ke keas."
"baiklah."
kami berdua berboncengan salam sebuah sepeda yang nampaknya masih baru ini dan tiba di sekolah tepat waktu. aku tak menyangka dia sebaik itu. aku fikir dia itu orang yang menjengkelkan dan jahil. tapi memang sih dia menjengkelkan tapi ternyata dia juga memiliki sisi baik yng tak aku ketahui.

*****
suatu hari, Revo mengajakku main ke rumahnya. aku pun tak segan. karena pada hari itu aku telah menjalkin persahabatan dengan Revo, layaknya aku dengan Miko. meskipun tak sehangat saat akau bersama Miko.
Siang itu dia bilang dia ingin mengajakku pergi berkeliling kompleks menggunakan sepedanya. tapi saat aku ke rumahnya aku melihat dia yang masih berada dalam ranjang di kamarnya. maka aku segera menyuruhnya mandi. kamar ini juga dulu adalah kamar Miko. rumah ini di jual kepada keluarga Revo setelah kepergian Miko. aku rindu sekali bercanda tawa dengan Miko di kamar ini. kami sering menghabiskan waktu untuk tidur di bawah kasur Miko. karna itu tempat rahasia kami berdua.
di meja kamar Revo, aku melihat sebuah buku harian entah milik siapa. aku penasaran, kubuka satu persatu halaman. di halaman pertama ku lihat ada dua buah kata tertulis ANANDA MIKO. hah?! apa-paan ini? notes Miko ada di kamar Revo? ini tidak mungkin. aku berusaha berfikir positif. oh mungkin saat berkemas notes ini tertinggal. ya, mungkin saja.
kemudian aku membacanya satu persatu. di buku itu ditulis namaku, saat-saat indah bersamanya saat itu seakan terekam kembali lewat buku harian itu, tetapii belum sempat ku baca seluruhnya. Revo keluar dari damar mandinya.
"Karra! sedang apa kau disitu?" tanyanya.
"Oh, aku.. aku tidak sedang apa-apa kok. sungguh. aku hanya melihat-lihat isi kamarmu saja." jawabku gugup
"oh begitu, yasudah keluar gih, aku mau memakai pakaian dulu."
"baiklah."
aku pun keluar dari kamarnya. aku berusaha tenang dengan pergi ke dapur dan meminum segelas air putih. sementara itu Revo sedang memakai pakaian di kamarnya.
"Ka, mungkin sekarang saatnya Karra tau semuanya." Revo berbicara sendiri sembari mentap buku harian Miko.
Tak lama kemudian Revo keluar dari kamarnya dan segera mengajakku pergi dengan sepedanya. dia bilang, di aingin mengajakku ke suatu tempat. tempat rahasia yang hanya di ketahui oleh ia, dan kakaknya yang sudah meninggal. aku penasaran. kemudian kami tiba di suatu tempat yang benar-benar asing bagiku, tapi tempat ini layaknya tempat yang hanya ada di dalam mimpi. karna luar biasa indahnya. tapi ini nyata. sungguh nyata. bahkan aku tak percaya bahwa ada tem,pat seindah ini.
"Nah, ini tempatnya!" bisik Revo pelan.
"Tempatmu, dan kakakmu? siapa yang menemukan tempat ini?" tanyaku.
"Kakakku, dia menemukan ini. dia bilang ini adalah tempat yang akan dijadikan tempat rahasia kedua antara dia dan sahabatnya yang sesungguhnya ia cintai. dia akan menghadiahkan tempat ini kepada gadis itu saat ulangtahunnya yang ke-17. yaitu jatuh pada hari ini. tapi sayang dia harus pergi sebelum ia sempat menghadiah tempat ini. jadi ini merupakan bingkisan terakhir dari kakakku yang ia titipkan padaku untuk di berikan kepada gadis itu." ceritanya sambil sesekali mengusap air matanya. ia menangis, tapi hanya menangis kecil. dari situ aku tahu bahwa ia sangat menyayangi kakanya.
ketika it\a bercerita tadi, sejenak terbesit bayangan Miko di fikiranku. tempat rahasia kedua, ulang tahun yang ke-17. dan, oh Tuhan. hari ini kan aku berulang tahun yang ke-17 apakah maksud dari gadis dan kakaknya iutu adalah..
"Karra, mengapa kau terdiam?" tanyanya singkat.
"aku takjub. siapa gadis itu? beruntung sekali dia. apakah kau sudah memberitahukan tentang tempat ini? dan siapa kakakmu?" aku bertanya penasaran.
"sungguh kau ingin tahu?" tanyanya lagi.
"sungguh." jawabku.
"gadis itu adalah kau, dan kakakku adalah.."
"MIKO!" aku memotong pembicaraannya. "Oh Tuhan, kau adik kembarnya Miko? yang tinggal bersama nenek-dan kakekmu di Surabaya itu?"
"ya Karra. kau sangat pintar. pantas saja kakakku jatuh cinta padamu. karna kau memamg pintar"
"jadi selama ini?"
"Ya, dia mencintaimu, dia menyayangimu, lebih dari yang kau tau. dulu dia sangat pasrah akan hidupnya. tapi setelah mengenalmua, dia berusaha mati0matian untuk selalu bertahan. hanya untukmu. dan inilah bingkisan terakhir yang tak sempat dia berikan kepadamu, Karra. tugasku sudah selesai sekarang."
"Ya Tuhan. Miko sahabatku, aku tak pernah tahu sebesar itu perjuanganmu. demi aku. Revo! tapi mengapa dia tak pernah mengatakan hal ini kepadaku?" aku menangis sedapat-dapatnya, sekencang-kencanngnya.
"karena itulah yang dinamakan persahabatan dan ketulusan cinta yang dia miliki. berkorban tanpa harus memberi tahu kepada orang yang akan menikmati jerih payah pengorbanannya. dan aku berterimakasih kepadamu Karra. berkat kau, kakakku dapat tenang di peristirahatan terakhirnya. berkat kau, dia tak pernah nempak murung selama detik-detik terakhir kepergiannya. terima kasih Karra."

Sejak saat itu aku tahu semuanya. Aku mengetahui pengorbanannya. Aku mengetahui ketulusannya. Miko, meskipun kini ragamu tiada lagi disampingku, tidak dapat menemaniku memandang langit di tempat ini, tapi bagiku kau nyata, jiwamu tetap bersandar di hatiku. karna hati kita satu, jiwa kita satu. dan kita adalah selamanya. selamanya adalah kita. karna kau adalah sahabatku, sahabat dan kekasihku meski tak pernah terikrarkan. meskipun kita tak pernah berkata cinta, tapi kita telah mengintimkan hubungan kita sebagai sahabat. hati kita yang bersatu selamanya. terima kasih atas atas bingkisan terakhirmu untukku ini. aku akan menjaga tempat ini selamanya. aku menyayangimu.

by: devina gary oktiana

Setangkai Flamboyan di Ujung Jalan

Dari perasaan yang teramat memilukan
Tertutur sebuah ungkapan kekecewaan
Terbalut perasaan yang tak karuan
Memecah batasan kesunyian
Pada senja yang tak jua usai

Setangkai Flamboyan di ujung jalan sana
Meminta, memohon pada setiap orang yang melangkahinya
Untuk sekedar memercikan setetes atau dua tetes kehidupan
Tanpa adanya keinginan yang berlebihan
Untuk sekedar memberinya harapan
Agar mampu hidup di tengah kesengsaraan

Setangkai Flamboyan yang kini menjadi layu
Menengadahkan kelopaknya ke atas
Pada senja yang tak jua usai
Ia titipkan kebahagiaan yang semu

Pada setangkai Flamboyan yang kini telah mati
Kecantikannya terlambat disadari

16 Desember 2014
Devina Gary Oktiana

Senin, 15 Desember 2014

Peri Kecil yang Sirna (Berbahagialah dalam Kegelapan) #Part 11 - epilog

"Sirna selamat ulang tahun ke-14 sayang..."
"Ah bunda terimakasih banyak bun... ahiya sebentar aku ingin mengecek kotak pos bun, siapa tahu kado misterius itu datang lagi, sebentar ya bun"
Lalalalala yah kok gak ada biasanya kalau aku ulang tahun selalu ada kado di sini... apa mungkin terlambat ya? aku tunggu saja deh kalau begitu..

siang...

sore...

malam...

"Sirna...."
"Kadonya gak ada bun... Sirna mau tidur aja deh bun... dah bunda..."

Peri Kecil yang Sirna (Berbahagialah dalam Kegelapan) #Part 10 - Kini Tiba Waktunya

tik.. tok.. tik.. tok..
Sayup-sayup ku dengar suara jam dinding yang ada di ruangan ini, semuanya tampak putih bersih, tak ada satu orang pun yang ada di dalam ruangan ini selain aku. ini rumah sakit, bukan? ini ruangan tempat aku dirawat bukan? tapi rasanya ruanga ini menjadi begitu asing bagiku. ini aneh. dan kemudian pikiran itu muncul menghampiriku. oh Tuhan, apakah aku sudah....
"Sirna...." 
refleks aku menengok ke arah sumber suara itu, di sana... seorang wanita cantik berbusana putih dengan rambutnya yang diikat setengah. sangat cantik. lama kelamaan dia mendekat, menghampiriku. tapi... siapa dia? apakah dia...?
"Hahaha... kau tak perlu memandangku seperti itu." dia tersenyum dan entah bagaimana sekarang dia sudah berada tepat disampingku. "bangun dan duduklah... ada yang ingin aku jelaskan padamu." 
aku pun mengikuti perintahnya, tanpa ragu aku bangun dan duduk disebelahnya. tak lama, aku merasakan sentuhan yang sangat lembut di kepalaku. ini lebih dari belaian bunda. perasaan tenang ini, sulit, sulit aku ungkapkan.
"Kau tumbuh dengan sangat cepat, sekarang kau sudah sebesar ini. padahal terakhir aku melihatmu, kau masih sering menangis meminta hadiah ulang tahunmu. sekarang kau sangat cantik."
"Sssiapa kkkau?"
"Aku meminta maaf atas semuanya Sirna, kau harus mengalami kehidupan yang seperti ini karenaku. Aku minta maaf, anakku..."
"Anakku? Aku anakmu? Kau ibuku? Tapi bagaimana? Bagaimana bisa?" aku mulai menetestan butir-butir air mataku menahan isak tangis dan menyimpannya dalam hati.
"Aku.... minta maaf."
"Kenapa? Kenapa kau tega membuangku? kenapa kau tega meninggalkanku dan baru datang padaku sekarang?! kenapa?! kemana saja kau enam belas tahun ini? aku bahkan tak pernah melihat wajahmu, aku bahkan tak pernah mendengar suaramu, aku bahkan berpikir bahwa kau tidak pernah ada di dunia ini. lalu mengapa sekarang kau datang ke sini? untuk apa?!" dadaku sesak seperti tercekik, aku tak tahu akan berbuat apa aku tak tahu akan berkata apa lagi, aku hanya bisa menangis..
"Saat itu, kau baru berumur tiga minggu, ketika aku mengetahui bahwa ayahmu telah selingkuh dengan wanita lain, ketika itu pula aku mengetahui bahwa aku mengidap penyakit yang bisa menular. ibumu ini tak tahu lagi harus pergi ke mana, keluargamu tak mau menerimaku lagi setelah aku bersikukuh untuk menikah dengan ayahmu. memang semua ini salahku, jika saja aku tidak terbuai oleh laki-laki itu. tanpa berpikir panjang aku mencari sebuah panti asuhan dan menitipkanmu di sana. jika kau berpikir aku tak pernah datang, kau salah anakku... aku selalu datang setiap hari dalam hidupku, bahkan setiap kau berulang tahun aku selalu memberimu kado sayang, hingga akhirnya pada ulangtahunmu yang ke-13 itulah kado terakhir dariku. sejak saat itu, aku sudah tidak lagi datang kepadamu, aku sudah tak dapat lagi melihatmu dari sisi panti asuhan itu. penyakitku sudah membawaku pergi jauh meninggalkanmu, aku gugur. tapi, aku selalu di sini, menjagamu, melindungimu. kini... aku datang... aku datang untuk menjemputmu anakku, aku datang untuk menebus jutaan pelukan yang belum sempat aku berikan padamu, aku datang untuk menebus milyaran cinta dan kasih sayang yang belum sempat kau rasakan.. karna ini adalah waktumu pulang, anakku.."
aku masih terdiam, tak tahu harus berbuat apa, yang jelas air mataku mengalir, aku pun tak kuasa menahan perasaan itu, saat tangannya terbuka lebar untuk memelukku, aku datang menghampirinya dengan pelukan kerinduan. ibuku..."

*tuuuuuuuuuut..................*
Innalillahi wa Inna ilaihi Rooji'un... Sirna...